HASIL LUARAN JANIN PADA IBU PASCA ABORTUS DI RUMAH SAKIT dr. HASAN SADIKIN BANDUNG TAHUN 2004

24 Jan

By: Ema Wahyu Ningrum* Ma’mun Sutisna** Mery Wijaya***

Abortus didefinisikan sebagai penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas sebelum usia kehamilan 20-22 minggu, dengan berat badan kurang dari 500 gram (Wiknjosastro,1997). Insidensi abortus sulit ditentukan karena kadang–kadang wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil, dan tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang).
Risiko terjadinya abortus spontan meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah paritas, usia ibu, jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya. Abortus meningkat sebesar 12% pada wanita usia kurang dari 20 tahun dan meningkat sebesar 26% pada usia lebih dari 40 tahun. Insiden terjadinya abortus meningkat jika jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya 3 bulan (Sastrawinata, 2004).
Kejadian abortus diduga mempunyai efek terhadap kehamilan berikutnya, baik pada timbulnya penyulit kehamilan maupun pada hasil kehamilan itu sendiri. Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya persalinan prematur, abortus berulang, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Cunningham, 2005).
Poland mendapatkan angka rekurensi dari satu kali kegagalan kehamilan sebanyak 46 %. Rekurensi ini dapat berupa abortus berulang, lahir mati atau kematian neonatal dini akibat berat badan lahir yang rendah. Angka ini dapat meningkat dengan bertambahnya umur. Dikatakan wanita usia 40 tahun mempunyai risiko dua kali lipat dibanding wanita usia 30 tahun. Pada abortus habitualis, angka rekurensi ini juga meningkat sampai 80–90% (Suryadi, 1994).
Pada penelitian Thom terhadap 2.146 penderita dengan riwayat abortus satu kali, 94 orang (4,9%) menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang terhambat pada kehamilan berikutnya, 174 orang (8,7%) melahirkan bayi prematur. Sedangkan dari 638 penderita dengan riwayat abortus 3 kali atau lebih, ternyata terjadi pertumbuhan janin yang terhambat pada 41 orang (6,4%), prematuritas pada 63 orang (10,8%) (Suryadi, 1994).
Sekitar 80-90 % wanita yang pernah mengalami abortus spontan sejumlah satu atau dua kali dapat melahirkan bayi matur pada kehamilan berikutnya, didukung bila memiliki riwayat kehamilan matur sebelumnya, namun hal ini tidak berlaku pada wanita dengan usia lebih dari 35 tahun (William, 2001).
Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteristik ibu dan hasil luaran janin pada ibu dengan riwayat abortus di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004.

METODOLOGI PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik ibu dan hasil luaran janin pada ibu dengan riwayat abortus di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Variabel yang diukur meliputi karakteristik ibu dengan riwayat abortus (umur, paritas, jarak persalinan) dan hasil luaran janin ibu dengan riwayat abortus (prematur, BBLR, matur, abortus).
Penelitian dilakukan di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin tahun 2004 dengan populasi ibu bersalin yang mempunyai riwayat abortus sebanyak 276 persalinan. Sampel diambil secara total sampling dan memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki riwayat abortus terakhir, tanpa memandang paritas dan memiliki hasil luaran janin prematur, BBLR, matur dan abortus berulang serta memiliki catatan medik yang lengkap. Jumlah sampel 112 ibu bersalin dengan riwayat abortus.
Data dikumpulkan dengan metode survey dari rekam medik bagian Obstetri Ginekologi dan di bagian Rekam Medik Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 1 Januari–31 Desember 2004.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang disajikan berikut ini meliputi karakteristik responden (N=112) berdasarkan umur terdiri dari usia 15-19 tahun 0,89%, usia 20-24 tahun 11,61%, usia 25-29 tahun 38,39%, usia 30-34 tahun 27,68%, usia 35-39 tahun 21,43%. Paritas responden adalah 1 (43,75%), 2-3 (46,43%), ≥ 4 (9,82%). Jarak persalinan < 24 adalah 64,29%, ≥ 24 adalah 35,71%.

Tabel 1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur tahun 2004 (N=112)

Umur                  Ibu dengan riwayat abortus
(tahun)                   Frekuensi             %
15-19                      1                             0,89
20-24                     13                          11,61
25-29                     43                          38,39
30-34                    31                           27,68
35-39                    24                           21,43

Tabel 2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan paritas tahun 2004 (N=112)

Paritas                Ibu dengan riwayat abortus
F                         %
1                          49                       43,75
2-3                     52                        46,43
≥ 4                     11                          9,82

(Download pdf Tabel 1,2,3,4,5,6 & 7)

Tabel 3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan jarak persalinan tahun 2004 (N=112)

Jarak Persalinan          Ibu dengan riwayat abortus
(bulan)                           Frekuensi            %
< 24                               72                          64,29
≥ 24                              40                          35,71

Tabel 4
Sebaran hasil luaran janin pada responden tahun 2004 (N=112)

Hasil                     Ibu dengan riwayat abortus
Luaran janin        Frekuensi          %
Abortus                2                         1,79
Prematur            13                      11,61
BBLR                   12                      10,71
Matur                 85                       75,89

Tabel 5
Distribusi frekuensi jarak persalinan ibu dengan riwayat abortus dan hasil luaran janin tahun 2004 (N=112)

Umur Hasil luaran janin Jumlah
(tahun) Abortus Prematur BBLR Matur
N % n % n % n %
15-19 - - 1 100 - - - - 1
20-24 - - 1 7,69 2 15,38 10 76,92 13
25-29 1 2,32 3 6,97 4 9,30 35 81,39 43
30-34 1 3,22 3 9,67 3 9,67 24 77,41 31
35-39 - - 5 20,83 3 12,5 16 66,66 24

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan sebagian besar ibu dengan riwayat abortus banyak terdapat pada kurun usia reproduksi sehat (20-35 tahun) dengan hasil luaran janin tidak terdapat komplikasi. Tampak pula bahwa umur < 20 tahun dan > 35 tahun hasil luarannya cenderung ada komplikasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ditinjau dari segi umur, gambaran risiko selama kehamilan adalah pada kelompok usia kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun. Pada wanita muda (kurang dari 20 tahun) disebabkan oleh berbagai faktor antara lain gangguan pertumbuhan janin akibat kurangnya nutrisi, ketidaksempurnaan organ reproduksi dan hormonal. Pada kelompok umur lebih dari 35 tahun terjadi karena gangguan imunologis, fungsi alat reproduksi sudah mengalami penurunan untuk menerima buah kehamilan dan gangguan sirkulasi (vaskuler).

Tabel 6
Distribusi frekuensi jarak persalinan ibu dengan riwayat abortus dan hasil luaran janin tahun 2004 (N=112)
Hasil luaran janin
Paritas Abortus Prematur BBLR Matur Jumlah
f % f % f % f %
1 1 2,04 6 12,24 5 10,20 37 75,51 49
2-3 1 1,92 6 11,53 4 7,69 41 78,84 52
≥ 4 - - 1 9,09 3 27,27 7 63,63 11

Dari tabel 6, tampak bahwa pada paritas 2-3 dari ibu dengan riwayat abortus sebagian besar hasil luaran janin berikutnya cenderung tidak ada komplikasi. Menurut Wiknjosastro (1997) bahwa paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kejadian komplikasi lebih tinggi. Ibu dengan paritas rendah cenderung bayi yang dilahirkannya tidak matur atau ada komplikasi karena merupakan pengalaman pertama terhadap kemampuan alat reproduksi ibu dan kemungkinan akan timbul penyakit dalam kehamilan dan persalinan. Menurut Institute Medicine (1990, dalam Sastrawinata, 2004) menyatakan ibu dengan paritas tinggi (melahirkan lebih dari 3 kali) cenderung mengalami komplikasi dalam kehamilan yang akhirnya berpengaruh pada hasil persalinan.

Tabel 7
Distribusi frekuensi jarak persalinan ibu dengan riwayat abortus dan hasil luaran janin tahun 2004 (N=112)

Jarak Hasil luaran janin
persalinan Abortus Prematur BBLR Matur Jumlah
(bulan) f % F % f % f %
< 24 1 1,38 8 11,11 8 11,11 55 76,38 72
≥ 24 1 2,50 5 12,50 4 10 30 75 40

Berdasarkan tabel 7, jarak persalinan dengan hasil luaran janin, sebagian besar ibu dengan riwayat abortus pada jarak persalinan < 24 bulan adalah dengan hasil luaran janin matur. Hal ini kurang sesuai dengan teori, dalam teori dijelaskan bahwa persalinan kurang dari 2 tahun menyebabkan fungsi reproduksi dan kesehatan belum pulih secara optimal sehingga status kesehatan anak yang dilahirkan cenderung terdapat komplikasi atau tidak matur (Cunningham, 2005). Jadi kemungkinan penyebabnya adalah faktor pendukung lain yang baik seperti asupan gizi, status ekonomi dari responden. Dalam hal ini tidak diteliti.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2004 tentang karakteristik ibu dan hasil luaran janin pada ibu dengan riwayat abortus dapat disimpulkan bahwa 38,39% ibu dengan riwayat abortus pada umur 25-29 tahun, 46,43% ibu dengan paritas 2-3, 64,29% ibu dengan jarak persalinan < 24 bulan. Hasil luaran janin adalah matur (75,89%), prematur (11,61%), BBLR (10,71%) dan abortus (1,79%).
Beberapa saran adalah perlunya deteksi dini komplikasi selama kehamilan dengan menganjurkan pemeriksaan ante natal secara rutin minimal 4 kali dalam kehamilan. Disamping itu memberikan Pendidikan Kesehatan tanda-tanda bahaya selama kehamilan seperti perdarahan dalam kehamilan. Dengan demikian dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi.

* Ema Wahyu Ningrum, S.ST: Staf Pengajar Prodi DIII Kebidanan STIKES Al-Irsyad
** Drs. Ma’mun Sutisna, M.Pd.: Staf Pengajar DIV Kebidanan FK-UNPAD
***Mery Wijaya, M.Kes.: Staf Pengajar Prodi DIII Poltekes Depkes Bandung.

KEPUSTAKAAN
Cunningham, FG. Mc Donald, PG. 2005.Obstetri William Ed 22. Jakarta: EGC
Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi ed.2. Jakarta: EGC.
Suryadi LM, Effendi JS, Sabarudin U. 1994. Kumpulan Makalah Ilmiah POGI IX Tinjauan Kehamilan Pasca Abortus. Bandung: SMF Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSHS.
Wiknjosastro, Hanifa.1997. Ilmu Kebidanan. Jakarta:YBP-SP.
William F, Rayburn. 2001. Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika.

About these ads

5 Tanggapan to “HASIL LUARAN JANIN PADA IBU PASCA ABORTUS DI RUMAH SAKIT dr. HASAN SADIKIN BANDUNG TAHUN 2004”

  1. Lin April 13, 2008 at 3:08 pm #

    Q pengen nyari tentang pembagian tingkatan umur berdasarkan kematangan alat reproduksi pada wanita neeeeh

  2. apgarini, SKM Februari 14, 2009 at 2:33 pm #

    ABORTUS…..!!!!!! TOLONG DONG SAYANGI DIRI ANDA DAN INGAT APA SETELAH KITA MATI…. FIKIRKAN SEBELUM BERTINDAK….OC!

  3. ken b.s Februari 17, 2009 at 11:28 am #

    bisa tdk tulis penyebab n penanganan yang pasti soal abortus habitualis.ote….

  4. M. Mursal, S. Kep. Ns. Desember 10, 2009 at 1:41 pm #

    Penelitian Sip Banget.

  5. rizky Februari 28, 2010 at 7:09 am #

    berapa bln jarak setelah abortus wanita baru blh hamil lagi?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: