UPAYA MENUMBUHKAN KREATIVITAS ANAK

6 Feb

Kreatifitas merupakan daya/kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu. Kemampuan ini dapat terkait dengan bidang seni maupun ilmu pengetahuan. Dalam bidang seni, intuisi dan inspirasi sangat berperan besar dan menuntut spontanitas lebih tinggi. Dibidang ilmu pengetahuan, kemampuan pengamatan dan perbandingan, menganalisa dan menyimpulkan lebih menentukan. Kedua-duanya menuntut pemusatan perhatian, kemampuan, kerja keras dan ketekunan; kedua-duanya bertolak dari intelektualisme dan emosi, serta merupakan cara pengenalan realitas alam dan kehidupan yang sama.

Menurut seorang psikolog terkenal, Erick Erikson, masa usia tiga setengah tahun hingga enam tahun adalah masa penting bagi seorang anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Erikson mengatakan bahwa masa ini adalah masa pembentukan sikap initiative versus guilt (inisiatif dihadapkan pada rasa bersalah). Anak-anak yang mendapat lingkungan pengasuhan dan pendidikan yang baik, akan mampu mengembangkan sikap kreatif; antusias untuk bereksplorasi, bereksperimen, berimajinasi, serta berani mencoba dan mengambil resiko. Namun, semua itu bergantung pada lingkungan belajar anak; apakah memang kondusif untuk mencapai perkembangan tersebut?

Banyak orangtua berharap, ketika anaknya masuk ke sekolah TK, sekolah tersebut mampu menyiapkan anak agar bisa membaca, menulis, dan berhitung. Akibatnya, banyak sekolah TK yang mengorientasikan pendidikannya secara lebih akademik. Hal ini biasanya membuat guru lebih sering menyuruh anak untuk duduk diam di ruang kelas, belajar menulis, dan mengerjakan soal-soal berhitung. Bahkan, hasil pekerjaan anak itu sudah mendapat nilai, kritik, dan disalahkan oleh guru. Padahal, menurut Ericson, apabila pada masa ini anak sering dikritik, disalahkan, atau diberikan nilai, maka sikap yang akan berkembang di dalam dirinya adalah perasaan bersalah dan takut. Perasaan bersalah ini akan membuat anak takut untuk mencoba, mengambil inisiatif dan berkreasi

Hasil studi Howard Gardner menunjukkan, anak-anak yang menerima pelajaran dalam system pendidikan yang salah, akan mengalami penurunan skor kreativitas hingga 90% pada usia lima hingga tujuh tahun (usia TK sampai kelas satu SD). Apabila system pendidikan tidak mendukung perkembangan kreativitas, maka penurunan itu akan berlanjut hingga mereka mencapai usia 40 tahun. Akibatnya, sebagian besar dari mereka hanya mencapai tingkat kreativitas sekitar dua persen dari tingkat kreativitas masa kanak-kanak yang penuh imajinasi.
Uraian tadi bukan berarti berpendapat bahwa sekolah TK tidak boleh mengajarkan membaca atau menulis. Akan tetapi, terkadang metode pengajaran yang disampaikannya salah, yaitu dengan menyuruh anak untuk menghapal hal-hal yang abstrak, lebih banyak duduk diam di kelas daripada melakukan motorik kasar dan halus, mengerjakan soal (drilling), atau memberikan nilai hasil pekerjaan anak. Bahkan jika dengan disertai dengan menghukum atau memarahi anak, akan membahayakan pertumbuhan emosi positif anak. Padahal, masa TK adalah masa ketika anak-anak ingin bermain, bereksplorasi, berimajinasi, serta bereksperimen dengan melakukan banyak kesalahan, dan belajar dari kesalahannya.

Untuk menumbuhkan kreativitas anak, guru dapat mengakrabkan anak dengan dunia seni. Ketika jiwa seni anak cukup tinggi, mereka bisa mengapresiasi seni, menyukai seni, dan umumnya lebih cerdas secara emosi. Mengajak anak-anak mengunjungi pameran kesenian, seperti pameran lukisan, juga dapat menambah minat anak-anak terhadap seni. Disamping itu, perjalanan mengeksplorasi alam juga mampu menggugah kreativitas anak dan mengasah kecerdasan spiritual. Apabila memungkinkan, guru dapat menjadwalkan kegiatan outing/field trip (kegiatan belajar di luar sekolah) yang berbentuk kegiatan mengeksplorasi alam. Pergi ke kebun binatang, ke alam bebas, baik pantai maupun pegunungan, perkebunan teh, merupakan beberapa tempat yang dapat menjadi pilihan.

Mengapa alam bebas? Pertama ke alam bebas, baik ke daerah pegunungan atau pantai merupakan dua tempat yang kemungkinan jarang ditemui si kecil dalam kehidupan sehari-hari di kota. Melakukan sesuatu di tempat yang benar-benar berbeda, membuat pengalaman si kecil kian kaya.
Kedua, anak akan menemukan berbagai hal yang dapat menambah perbendaharaan konsepnya. Hal-hal yang selama ini hanya ia lihat dari buku dan televisi dapat dinikmatinya secara langsung. Bagaimana rasanya berdiri, berbaring, atau mengenggam pasir? Bahkan si kecil juga dapat bermain membentuk bangunan dari pasir, mengumpulkan kerang, ganggang, dan biota laut lainnya. Anak akan tertarik mendengar suara lembut dan halus air yang jatuh pada batu, seperti yang ada di sungai dan di pegunungan, yang akan menambah rekaman audio si kecil. Mereka juga akan merasakan perbedaan udara dingin di pegunungan dengan teriknya pantai. Kesemua stimulasi tersebut akan menumbuhkan kepekaannya terhadap keindahan alam yang dapat menjadi faktor pendorong anak untuk menjadi kreatif.

Ketiga, untuk perkembangan motorik dan jiwa anak, ia perlu tempat luas untuk bergerak. Usia balita hingga TK adalah usia pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Pertumbuhan dan perkembangan anak optimal jika ia berada dalam keadaan sehat, baik fisik maupun mental. Melalui gerak, anak memperoleh keduanya.
Apa yang biasanya ingin dilakukan anak pada saat bepergian ke kebun binatang? Tentunya mereka akan tertarik dengan berbagai bentuk dan aktivitas hewan di sana. Begitupula dengan bunyi-bunyian setiap hewan yang unik. Inilah kesempatan yang baik bagi guru untuk memperkenalkan kehidupan dan kebiasaan hewan kepada anak-anak. Selain itu, naik kuda, merupakan pilihan yang relative diminati banyak anak. Anak-anak memang menyukai hewan, apalagi hewan yang besar dan jinak di alam. Rekaman visual tersebut akan memperkaya daya imajinasi anak.

Hal pertama yang paling penting dalam memilih dan mengadakan kegiatan outing adalah aktivitas tersebut harus terarah dan memiliki tujuan yang jelas.
Outing atau field trip tersebut sebaiknya memang jelas berkaitan dengan materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Disamping itu, sebaiknya berikan juga tugas yang harus siswa kerjakan agar kegiatan outing efektif dan sesuai sasaran. Selain itu, pihak sekolah sebaiknya mempersiapkan dengan seksama jadwal kegiatan yang akan dilakukan dalam acara outing agar berjalan lancar dan terarah. Agar bisa terkoordinir dengan baik, menurut Dora Wulandari, staf pengajar sekolah High Scope (untuk kelas anak usia 2 hingga 5 tahun), disarankan perbandingan guru pendamping dengan jumlah murid sebanyak 1 banding 5. Biasanya sejak 3 hari sebelum acara para guru sudah menjelaskan apa saja yang akan dilakukan anak-anak di acara tersebut.
Kegiatan outing juga sebaiknya berbentuk aktivitas yang memang sesuai dengan usia anak dan cukup aman dan nyaman baginya. Pihak sekolah sebaiknya melakukan survei tempat terlebih dahulu untuk memastikan keamanan tempat tersebut. Umumnya dalam kegiatan outing anak sekolah TK, orang tua murid ikut serta mendampingi anak-anak peserta outing tersebut. Namun tentu diharapkan orang tua menghindari sikap over protective kepada si kecil. Justru acara outing merupakan sarana untuk mengajarkan kemandirian dan mengembangkan kreativitasnya.
Bermain merupakan aktivitas yang berperan penting untuk mengembangkan kecerdasan dan kreativitas anak. Guru harus merencanakan kegiatan bermain agar menjadi pengalaman baru bagi murid-murid guna mendorong pengembangan minat mereka. Bermain dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar. Berbagai aktivitas yang umumnya dilakukan di dalam ruangan misalnya, bermain musik, seni, bercerita, dan bermain drama. Dalam permainan dramatik anak pura-pura menjadi orang lain dan menggunakan benda tetapi tidak berfungsi sebagai fungsi sebenarnya. Bermain dramatik banyak menggunakan fantasi.

Apabila yang dilakukan berdasarkan peran-peran orang yang ada di sekitarnya dan berhubungan dengan apa yang pernah dilihat dari masyarakat di sekelilingnya biasanya disebut dengan bermain sosiodrama.
Dalam bermain dramatik anak-anak mengembangkan kegiatan bermain dengan melibatkan situasi yang pernah dialaminya. Mereka membuat panggung dan dialogmya sendiri sambil mengekspresikan perasaannya secara spontan. Cara bermain dramatik ini membantu anak untuk mengembangkan pengertian tentang dunianya dan juga kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Sebaiknya setiap TK memiliki pusat bermain dramatik. Umumnya pusat ini memiliki suasana kehidupan di rumah. Dalam kepustakaan ini disebut ‘sudut boneka’ atau sudut rumah tangga. Biasanya dalam pusat tersebut ada meja, kursi, kompor, tempat mencuci perabot, boneka, pakaian-pakaoan dan sebagainya. Sarana tersebut memungkinkan anak memainkan peran yang sering dilihatnya sehari-hari. Misalnya: anak berperan sebagai ibu yang sedang memasak, menyuapi anak, membersihkan ruang. Cara anak memainkan perannya, hubungan-hubungan dan perasaan yang ditunjukkan/diperlihatkan, merefleksikan bagaimana anak memahami kehidupan mereka sendiri. Adalah tugas guru untuk memperluas peran anak tidak hanya terbatas pada peran di rumah saja, tetapi juga di luar rumah, misalnya di toko, kantor pos, ruang dokter, tukang cukur, dan lain-lain.
Guru dapat memanfaatkan media dongeng/bercerita sebagai penggugah kreativitas anak-anak. Melalui dongeng, guru bisa menyampaikan pesan-pesan, hikmah-hikmah dan pengalaman-pengalaman kepada murid-muridnya. Disamping memperkaya imajinasi anak, dongeng menjadikan anak-anak merasa belajar sesuatu, tetapi tak merasa digurui. Bahkan, dongeng/cerita ternyata merupakan salah satu cara yang efektif mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), social dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak. Dongeng mampu membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialaminya. Karena itu guru perlu memiliki kreativitas, penghayatan, dan kepekaan pada saat bercerita agar pesan dapat sampai kepada murid-muridnya.

Sedangkan bentuk bermain di luar ruangan kelas anak prasekolah terdiri dari kegiatan memanjat, lari, melompat, berayun dan jumpalitan. Bentuk lain dari bermain di luar adalah kegiatan dengan menggunakan gerobak, menyusun bangunan, bermain pasir dan air, bermain dramatik dan berbagai kegiatan bermain dengan disertai aturan, misalnya bermain musang dan ayam.
Alat-alat yang dipergunakan di luar biasanya bersifat menantang tetapi aman sehingga terhindar dari perasaan frustasi. Materi yang ada di halaman harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Misalnya untuk anak yang sangat muda, tangga yang rendah sangat memacu anak untuk menaikinya. Anak-anak tersebut setiap kali akan menaiki dan menuruni tangga tersebut secara berulang-ulang. Sedangkan apabila anak telah meningkat usianya dan sudah lebih terampil, tangga dari besi atau kayu perlu diperkenalkan, juga tangga yang terbuat dari tali temali.

Bak pasir di luar ruangan dapat dibuat seperti kolom atau beberapa kotak dan diletakkan di bawah, sehingga bila akan bermain anak-anak cukup jongkok saja. Sebiknya bak pasir tersebut dilengkapi dengan air kran serta sebaiknya ditutup sehingga aman dari kotoran binatang. Bila anak-anak ingin bermain, tidak selalu harus dengan alat. Cukup dengan menggunakan tangan dan membentuk pasir yang basah, misalnya membuat gunung atau terowongan.

Tetapi bagaimanapun alat-alat sangat bermanfaat bagi anak. Dengan menggunakan alat seperti sekop kecil, sendok, ember dan sebagainya sangat memungkinkan lebih banyak variasi dalam bermain pasir. Mainan mobil-mobilan dan kendaraan lain disarankan pula.
Seperti pada area lain, bermain pasir juga ada aturannya, misalnya anak tidak diperbolehkan melempar anak lain dengan pasir atau mengguyur air. Sepatu dan kaos kaki sebaiknya dilepas apabila bermain pasir atau air. Setelah selesai bermain, anak perlu dibantu untuk membersihkan diri.
Umumnya kelas untuk anak prasekolah terdapat sarana untuk bermain dengan menggunakan meja, kegiatan bermainnya disebut kegiatan meja. Materi yang dimainkan dalam kegiatan ini mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan. Alat atau materi dalam pusat ini adalah:
a)Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat, segi-4, segi-3 dan segi-6. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna, bentuk dan ukuran

b)Tangga silinder bentuk silinder dan kubus. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk, warna, jumlah, posisi benda (di atas, di bawah, dan disamping).

c)‘Puzzles’ (mainan bongkar pasang). Yangpaling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran, segi-4, segi-3, bintang, oval, dan sebagainya). Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong (kepingan gambar), setelah gambar tersebut ditebarkan di meja, anak diminta menyatukan kembali.

d)Alat permainan yang bersifat konstruksi, misalnya balok meja, alat permainan LASY, yaitu untuk mengembangkan kreativitas. Dengan alat permainan tersebut, anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu, dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri.

e)‘Games’. Sejumlah games yang sederhana juga termasuk dalam pusat ini, games antara lain meliputi domino, lotto, ular tangga, dan sebagainya.

f)Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. Yaitu materi yang membawa anak untuk kegiatan yang bersifat akademik. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil, pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan untuk membuat huruf), bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya.
Anak mengenal irama dan alat musik melalui kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Guru dapat mengembangkan kemapuan seni anak melalui praktek bermain musik di dalam kelas maupun di luar dengan alat-alat musik tradisional maupun modern. Seperti organ, keyboard, angklung, seruling bambu, kolintang, perangkat drum band, dan sebagainya.

Setiap murid harus diberi kesempatan mendapatkan berbagai pengetahuan, menggunakan alat-alat permainan atau alat bantu belajar yang tersedia. Bermain harus dihargai karena nilainya sebagai medium belajar dan berkreasi bagi anak.

DAFTAR PUSTAKA

Grahita Purbasantika Nugraha, “Perjalanan Mengeksplorasi Alam”, Ayah bunda, No.11, 1-14 Juni 2002.

Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia 4 (1983). Jakarta:Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Ratna Megawangi. Yang Terbaik Untuk Buah Hatiku (2006). Bandung: Khansa’ lini Penerbitan MQS Publishing

DR. Soemiarti Patmonodewo. Pendidikan Anak Prasekolah.(2003). Jakarta:Rineka Cipta.

School Life, Parents Guide, Vol. IV, 6 Maret 2006

Noname, http://myquran.org/forum/index.php?topic=29891.0

About these ads

Satu Tanggapan to “UPAYA MENUMBUHKAN KREATIVITAS ANAK”

  1. uni September 6, 2009 at 1:47 pm #

    Hasil studi Howard Gardner itu d negara mana??? mkash..
    harap d jwb scepatnya (hari ini jg,mksh)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: