Ahmad Rofiq

Mei 7, 2008

PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL

Diarsipkan di bawah: artikel — rofiqahmad @ 10:01 pm

Created By: Rusana, S.Kep., Ns
Teknologi Instruksional

A. Definisi:
1. Suatu proses yang kompleks & terpadu dari manusia, prosedur, ide, alat dan organisasi untuk mengelola usaha pemecahan masalah dalam situasi belajar yang bertujuan dan terkontrol (AECT, 1971).

2. Pemecahan masalah pengajaran dengan pendekatan sistem berdasarkan konsepsi teknologi instruksional yang merupakan bagian dari teknologi pendidikan
3. Pemecahan masalah berbentuk sistem instruksional yang lengkap, yang merupakan kombinasi dari komponen sistem instuksional yang sengaja dirancang, dipilih dan digunakan secara terpadu.

B. Pola Instruksional

1. Pola instruksional tradisional
Tujuan –>penetapan isi–> dosen–> mahasiswa
metode

2. Pola instruksional dibantu alat peraga
Tujuan–>penetapan isi–> dosen–> mahasiswa
Metode            dengan media

3. Pola instruksional dengan media
Tujuan–>penetapan isi–> dosen–> mahasiswa
Metode                media

C. Model Pengembangan Instruksional
Adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Twelker, 1972)

Contoh:
1. Model Briggs
2. Model Instructional Development Institute (IDI)
3. Model Instructional Design by Kemp

1. Model Pengembangan Instruksional : Model Briggs

a. Mau Kemana?
Identifikasi masalah/ tujuan, rumusan tujuan, penyusunan materi/ silabus, analisis tujuan
b. Dengan Apa?
Analisis tujuan, jenjang belajar dan strategi instuksional, rancangan instuksional
c. Bilamana Sampai?
Penyusunan tes, evaluasi belajar (formatif, sumatif)

2. Model Instructional Design by Kemp
Terdiri dari 8 langkah:
a. Menentukan TIU dan pokok bahasan
b. Menganalisa karakteristik peserta didik
c. Menentukan TIK
d. Menentukan materi/ bahan
e. Menentukan pre-test
f. Menentukan strategi
g. Mengkoordinasi sarana penunjang
h. Mengevaluasi

3. Model Instructional Development Institute (IDI)
Terdiri dari 3 tahap besar:
a. Define (pembatasan):
1) identifikasi masalah
2) analisis latar belakang
3) pengelolaan organisasi
b. Develop (pengembangan):
1) identifikasi tujuan
2) penentuan metode
3) penyusunan prototipe
c. Evaluate (penilaian):
1) uji coba prototipe
2) analisis hasil
3) pelaksanaan

D. Langkah-Langkah Pengembangan Instruksional (Modifikasi Model IDI)
1. Tahap identifikasi
a. analisis kebutuhan
b. analisis karakteristik peserta didik
2. Tahap pengembangan
a. perumusan tujuan instruksional
b. analisis tugas dan jenjang belajar
c. strategi instruksional
d. pengembangan prototipe
3. Tahap evaluasi
a. uji coba
b. review dan revisi
c. implementasi
d. evaluasi

Tahap Identifikasi:
a. Analisa Kebutuhan
b. Analisis karakteristik peserta didik: memperoleh gambaran:
1) tingkat kemampuan awal
2) hal-hal yang pernah mereka alami/ pengalaman
3) tingkat kemahiran/ pengetahuan/ istilah-istilah
4) media yang cocok bagi mereka
5) hal-hal yang perlu diperhatikan untuk melayani kebutuhan khusus
6) latar belakang sosial budaya
Analisis karakteristik dimaksudkan sebagai sarana mendapat petunjuk-petunjuk praktis untuk menyesuaikan:
1. isi ajaran dan tingkat kedalaman/ luasnya pembahasan
2. urutan dan cara penyajian (termasuk penentuan media)
3. jenis kegiatan belajar

E. Perbandingan Beberapa Model Pengembangan Instruksional:
1. Perbedaan:
Istilah yang dipakai, urutan, dan kelengkapan langkah
2. Persamaan:
Mengandung tiga kategori kegiatan pokok yaitu:
a. penentuan masalah
b. analisis dan pengembangan pemecahan masalah
c. evaluasi sistem
Kesemuanya dihubungkan dengan sistem umpan balik

April 2, 2008

PERKEMBANGAN menurut DENVER II (DDST II)

Diarsipkan di bawah: Tumbuh Kembang — rofiqahmad @ 1:50 pm

By. Rusana, S.Kep., Ns

Pengertian

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 1997).

Perkembangan Menurut Denver II

Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.

a. Aspek Perkembangan yang dinilai

Terdiri dari 125 tugas perkembangan.

Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas

Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:

1) Personal Social (perilaku sosial)

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.

3) Language (bahasa)

Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan

4) Gross motor (gerakan motorik kasar)

Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

b. Alat yang digunakan

Ø Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).

Ø Lembar formulir DDST II

Ø Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.

c. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:

1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:

3-6 bulan

9-12 bulan

18-24 bulan

3 tahun

4 tahun

5 tahun

2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.

d. Penilaian

Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).

CARA PEMERIKSAAN DDST II

§ Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.

§ Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.

§ Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.

§ Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.

§ Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.

1) Abnormal

a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih

b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .

2) Meragukan

a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih

b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.

3) Tidak dapat dites

Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.

4) Normal

Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.

Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun:

Contoh perhitungan anak dengan prematur:

An. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia kronologis An. Lula!

Diketahui:

Tanggal lahir An. Lula : 5-8-2006

Tanggal periksa : 1-4-2008

Prematur : 32 minggu

Ditanyakan:

Berapa usia kronologis An. Lula?

Jawab:

2008 – 4 – 1 An. Lula prematur 32 minggu

2006 – 8 – 5 Aterm = 37 minggu

_________ - Maka 37 – 32 = 5 minggu

1 – 7 -26

Ø Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau

1 tahun 8 bulan atau 20 bulan

Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah:

Ø 1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari

Atau

1 tahun 7 bulan atau 19 bulan

Interpretasi dari nilai Denver II

Ø Advanced

Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)

Ø OK

Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75

Ø Caution

Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90

Ø Delay

Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu

Interpretasi tes

Ø Normal

Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan

Ø Suspect

Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan

Ø Untestable

Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90%

Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable:

Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer

Download Grafik DDST disini

Download Petunjuk Pelaksanaan DDST

Februari 27, 2008

APENDIKSITIS

Diarsipkan di bawah: Contekan — rofiqahmad @ 5:24 am

• Apendiks (appendiks Vermiformis) terletak posteromedial dari caecum pada regio perut kanan bawah.
• Apendiks termasuk organ intra peritoneal. Walaupun kadang juga ditemukan retroperitoneal.
• Organ ini tidak mempunyai kedudukan menetap di dalam rongga perut (rongga peritoneal).
• Panjangnya 5 – 10 cm dengan berbagai posisi (retrocaecal, pelvical, dll)
• Walaupun sangat jarang kadang dijumpai pada regio kiri bawah.
• Mendapat aliran darah dari cabang arteri ileocaecal yang merupakan satu-satunya feeding arteri untuk apendiks, sehingga apabila terjadi trombus akan berakibat terbentuknya ganggren dan berakibat lanjut terjadinya perforasi apendiks.

APENDIXITIS AKUT

Adalah radang pada jaringan apendiks

• Istilah apendisitis pertamakali diperkenalkan oleh Reginal Fitz pada tahun 1886 di Boston.
• Morton pertamakali melakukan operasi apendektomi pada tahun 1887 di Philadelphia.
• Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
• Penyebab obstruksi dapat berupa :
- Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
- Fekalit
- Benda asing
- Tumor.
• Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
• Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks.
• Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks.

Klasifikasi Apendisitis
Ellis membagi apendiks menjadi :
1. Apendisitis akut tanpa komplikasi/ perforasi.
2. Apendisitis akut dengan komplikasi/ perforasi (peritonitis, abses/ infitrat)

GEJALA KLINIS :
• Nyeri perut periumbilikal kemudian menetap di kanan bawah.
• Anoreksia, mual muntah.
• Obstipasi, diare
• Disuria.
• Demam

PEMERIKSAAN FISIK
• Nyeri tekan Mc. Burney
• Rovsing sign, Psoas sign, Obturator sign

LABORATORIUM

• Lekositosis, lekosit > 10.000 /mm3
• Netrofilia.

DIAGNOSIS
• Gejala klinis
• Laboratoris.
• X-rays
• USG.
• Ct scan

TERAPI
• Apendektomi terbuka
• Laparoskopi apendektomi

Download pdf gambar appendixitis disini (90Kb)

HEMORHOID

Diarsipkan di bawah: Contekan — rofiqahmad @ 5:20 am

Wasir, Ambeyen, Haemorhoid adalah pelebaran vena – vena flexus hemorhoidalis

Hemorhoid dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1. Hemorhoid interna, adalah varices plexus hemoroidalis superior diatas linea dentata, permukaannya dilapisi oleh mukosa.
2. Hemorhoid eksterna : yaitu varices plexus hemorhoidalis inferior di bawah linea dentata, permukaannya ditutupi oleh kulit

Hemorhoid interna dapat dibagi menjadi 4 derajat, yaitu:
Derajat I :P elebaran vena masih tetap ditempat, Kadang – kadang disertai perdarahan.
Derajat II :Mulai ada benjolan, kalau mengejan benjolan keluar dan setelah itu masuk sendiri.
Derajat III :Saat mengejan benjolan keluar, untuk masuk lagi harus didorong dengan jari.
Derajat IV :Sudah prolaps, benjolan tidak dapat masuk kembali walaupun didorong dengan jari.

PENYEBAB
• Mengejan pada posisi jongkok waktu BAB.
• Obstipasi
• Kehamilan.
• Obesitas.
• Aliran balik vena ( misalnya pada sirosis hepatis ).
• Diet rendah serat.

GEJALA KLINIS
• Perdarahan, merupakan gejala awal pasien hemorhoid.
• Anemia.
• Nyeri, terutama pada hemorhoid eksterna.
• Benjolan, akibat adanya trombus

PEMERIKSAAN FISIK
• Inspeksi dan palpasi benjolan.
• Rectal toucher . Jika belum terbentuk trombus biasanya tidak teraba dan tidak sakit.
• Anuskopi.

DIFERENSIAL DIAGNOSIS
• Ca colorektal
• Divertikulitis
• Polip adenomatosa.
• Kolitis ulserativa.
• Prolaps rekti.

KOMPLIKASI
• Perdarahan akut, akan menyebabkan syok hipovolemik.
• Perdarahan kronik, akan menyebabkan anemia.
• Inkarserata, akibat adanya jepitan.

TERAPI
• Medikamentosa : diet tinggi serat dan laksantia ringan.
• Skleroterapi.
• Ligasi dengan cincin karet.
• Cryosurgery
• Operasi Hemorhoidektomi

Download pdf  40 Kb  Gambar Haemorhoid disini

PEMBELAJARAN/ PENGAJARAN DI KLINIK (PPK)

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — rofiqahmad @ 1:09 am

 Pembelajaran/ Pengajaran Di Klinik adalah:
• Bentuk kegiatan pendidikan/ pengalaman belajar untuk menumbuhkan serta membina sikap dan ketrampila profesional keperawatan peserta didik dengan lingkungan belajar pada tatanan nyata
• Bentuk program pendidikan untuk mempersiapkan tenaga keperawatan profesional khususnya di lapangan

Kerangka kerja PPK
1. Kerangka konsep
2. Konsep belajar: belajar dan pengalaman, belajar dan persepsi, belajar dan pengetahuan
3. Konsep mengajar
4. Relevansi konsep belajar & mengajar dan proses pembelajaran/ pengajaan di klinik

Manfaat PPK
• Pengalaman nyata
• Sikap profesional
• Pemahaman ilmu dan masalah keperawatan
• Problem soving melalui masalah keperawatan
• Adaptasi dan penyesuaian profesional di lingkungan kerja
• Kemampuan pengelolaan keperawatan

Managemen interaksi dalam PPK
1) Aspek kolaborasi institusi pendidikan dan pelayanan
i) Kerangka tujuan (tujuan peserta didik, target ketrampilan dan situasi klinik institusi pendidikan
ii) Fasilitas PPK: administratif (naskah kerjasama), teknisi profesional (ruang, pembimbing klinik, klien)
2) Aspek komunikasi antara pembimbing klinik dan pasien

Metode PPK
1. Metode pengalaman: penugasan klinik, pelaporan tertulis, simulasi, permainan
2. Metode pemecahan masalah: menganalisa situasi klinik, pemahaman masalah, perencanaan, penerapan pengetahuan, pemahaman nilai-nilai keyakinan
3. Konferensi/ kelompok diskusi: konferensi awal dan ahir, pear preview, issues (dampak sosial politik bagi praktek keperawatan), konferensi multidisiplinary (kolaborasi pengambilan keputusan untuk mengembangkan rencana perawatan pasien)
4. Observasi: peserta didik dapat meniru
5. Bed side teaching (peran serta klien, diskusi hal penting, tidak hanya how tapi why
6. Nursing care study: penguasaan merawat klien
7. Nursing team konferens: siswa diikutsertakan dalam pembahasan kasus oleh staf sebagai bagian dalam perencanaan keperawatan
8. Nursing round

Peran pembimbing klinik
• Change agent
• Nara sumber
• Menagemen/ pengelola: pengelola lingkungan fasilitas lahan praktek
• Mediator dan fasilitator
• Demonstrator
• evaluator
Fungsi pembimbing klinik
• Membina hubungan baik
• Terlibat dalam penemuan tim kesehatan
• Merancang magang
• Identifikasi populasi pasien untuk pembelajaran
• Mendampingi peseta didik selama praktik
• Fasilitasi proses pembelajaran, dll

Kriteria pembimbing
• Profesional dibidangnya
• Memahami askep
• Mempu mendeseminasikan
• Mempu melaksanakan fungsi pembimbing
• Kualifikasi pendidikan tinggi

Kriteria lahan praktik
• Terdaftar dan diakui pemerintah, manajemen baik
• Memberi pelayanan diagnostik, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi
• Pasien cukup (jumlah/ jenis penyakit)
• Fasilitas fisik dan alat memadai untuk kebutuhan pembelajaran

Aspek legal bagi institusi pendidikan
• Sistem pembimbingan, pengawasan dan penilaian praktik
• Rumusan tujuan praktik
• Jadwal pengelolaan praktik
• Tahapan sosialisasi/ pengenalan lapangan untuk peserta didik
• Panduan tertulis bagi peserta didik

Panduan tertulis bagi peserta didik
• Penghormati hak-hak pasien
• Pembuatan dan penggunaan dokumentasi keperawatan
• Atribut dan tanda pengenal diri
• Prosedur penjelasan, keluhan dan complain klien
• Kewaspadaan mal praktik
• Jalur komunikasi dan mekanisme bimbingan

Konferensi
1. Konferensi awal/ pre conference: persiapan, penguasaan materi, identifikasi kemampuan praktekan, perencanaan/ apa yang akan dilakukan.
2. Konferensi ahir/ post conference: apa yang akan dilakukan pada praktekan hari ini, kesenjangan, aspek positif/ negatif

« Tulisan Lebih BaruTulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.